Neoliberal

•November 4, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Izinkan saya untuk sekali ini keluar sejenak dari ranah syariah. Saya tergelitik untuk menanggapi ramainya silang pendapat tentang neoliberalisme yang lagi tren. Banyak salah kaprah tentang istilah ini.

Berawal dari serangan Amien Rais dan Prabowo Subianto kepada Boediono sebagai antek neoliberal, lantas istilah neolib terus bergemuruh ditandingkan dengan ekonomi kerakyatan yang jadi jualan pasangan calon Presiden-Wakil Presiden Megawati Sukarnoputri-Prabowo Subianto.

INDONESIA-POLITICS/

Lantas apa sebenarnya neoliberalisme itu? Dari situs wikipedia, didapat, neoliberalisme sebagai istilah filosofi yang lahir pada akhir abad ke-20. Ia turunan definisi dari istilah liberalisme klasik yang dipengaruhi teori ekonomi neoklasik. Prinsip penting kebijakan neoliberal ada dua: pasar bebas dan perdagangan bebas.

Pada intinya, pasar bebas ingin mengenyahkan hambatan yang ada pada perdagangan dan investasi internasional. Akhirnya semua negara bisa mengambil keuntungan dari naiknya standar hidup lewat meningkatnya aliran dagang dan investasi.

Lantas kenapa neoliberal ditandingkan dengan ekonomi kerakyatan? Kalau Prabowo merakyat, kenapa punya duit Rp1,7 triliun? Bukankah Prabowo dapat keuntungan bejibun dari praktek perdagangan bebas antarnegara? Dari pabrik kertas, bahan kimia dan pertambangan? Lantas bila Prabowo mengakui kalau ia ingin benar-benar memperjuangkan ekonomi kerakyatan, rakyat mana yang ia ingin bela?

Tapi balik ke debat neoliberal versus kerakyatan, saya setuju pendapat ekonom Faisal Basri bila kedua hal ini tak bisa disandingkan. Neoliberalisme termasuk ranah filosofis tentang sistem ekonomi sementara ekonomi kerakyatan bukanlah sistem ekonomi.

Kata Bang Faisal, ekonomi kerakyatan lebih sebagai pilihan orientasi kebijakan ekonomi yang menitikberatkan pada pemenuhan kebutuhan pokok rakyat. Dan itu, bisa diterapkan di negara komunis seperti Korea Utara ataupun di negara pasar bebas sekalipun seperti Skandinavia. Jadi jelas kedua istilah itu tak bisa disejajarkan.

Kritik kepada neoliberalisme biasanya mengacu pada “Model Amerika,” yang berbentuk upah murah dan ketidakadilan demi laba segede-gedenya. Contoh, misalkan Nike membuat pabrik di negara berkembang macam Indonesia, Thailand, China. Begitupula praktek banyak perusahaan multinasional lain yang jamak di era globalisasi kini.

NBA/

David Harvey (2005) mengklaim kalau neoliberalisme kekuatan dari kelas kapitalis global. Neoliberalism, menurutnya, praktek teori ekonomi politik yang mengedepankan hak cipta, perdagangan bebas, pasar bebas dan menswastakan aset.

Neoliberal satu bentukan dari “perusakan destruktif” kapitalis (konsep Schumpeter.) Sejatinya, meskipun konsep neoliberal bisa berbalik arah menjadi kritikan bagi kelas kapitalis, tapi kritikan ini bukan konsep Marxis. Sebab istilah Marxis buat neoliberal yaitu “akumulasi primitif.”

Kalau neoliberal menguntungkan para kapitalis, jelas bukan Pak Boed dong yang diuntungkan dari konsep ini? Anda bisa lihat kan, siapa kapitalis di antara calon presiden dan wakil presiden? Siapa yang paling kere di antara ketiganya?

Dan pada praktek kenyataannya, negara penerap pasar bebas sebebas-bebasnya tak ada di jagat raya. Negara Amerika, Eropa dan Asia yang kapitalis mempraktekkan tunjangan kesehatan bagi masyarakat, tunjangan buat penganggur, juga subsidi kesehatan dan pendidikan. Ada keberpihakan negara dalam hal-hal penting. Negara tak membiarkan begitu saja swasta berkuasa bagai “leviathan.”

Begitupun yang dipraktekkan Pak Boed sebagai konseptor di jajaran kementerian ekonomi dan pejabat keuangan negeri ini. Ia sangat memperhatikan rakyat kecil. Bagaimana memangkas pengangguran, meningkatkan investasi, serta mendorong pertumbuhan yang bisa mensejahterakan rakyat.

Dan kalau ada lawan menyerang, sebenarnya saya yakin Pak Boed tidak gila jabatan. Pasti beliau menolak ketika ditawari Pak SBY untuk jadi wapres. Pak Boed yang sederhana, ramah dan murah senyum itu tak berubah. Masih setia mengajar Sabtu-Minggu dilaju Jakarta-Jogja. Hanya karena harus berkeliling persiapan pemilu presiden beliau baru-baru ini mundur.

Saya jadi terkenang ketika saya sempat menjadi mahasiswa Pak Boed di Bulaksumur awal tahun 2000-an. Pas beliau sudah menjadi menteri keuangan (kalau tidak salah) di zaman Megawati. Beliau lebih sering memberi petuah kepada kami, anak muda tentang masa depan. Dan tentang jabatan, begini jawabnya, “Jadi menteri itu apa toh? Saya lebih senang di sini. Ngajar. Saya cinta mengajar,” ucapnya. (Muamalah, Profit, Jurnal Nasional, 27 Mei 2009)

Bang Bing Bung Yuk Kita Nabung

•November 4, 2009 • 1 Komentar

RUBRIK Muamalah kali ini mengajak kita menabung. Menabung senantiasa membuat kita berpikir ke depan. Menyiapkan masa depan. Menolak konsumtivisme. Banyak orang mengaku kepada saya sulit menabung. Gaji atau pendapatan setiap bulan ludes entah ke mana. Habis. Malah sering minus lantaran membayar utang.

Kenapa bisa terjadi besar pasak daripada tiang? Boros. Kita tidak tahu prioritas apa yang sebenarnya kita butuhkan. Ada obral besar-besaran, beli. Ada hape terbaru, sikat. Ada baju atau sepatu baru, embat. Budaya konsumtif menggerayangi. Padahal sebenarnya kita tidak butuh barang-barang itu. Cuma buat gaya doang. Betul kan?

CHINA-ECONOMY

Lalu kalau begini, sulit dong kita bisa nabung? Ya jelas dong. Masak ya “tak gendong.” Lantas gimana dong caranya kita bisa punya uang?

Nabung. Sesederhana itu. Orang kaya bilang, sisihkan uang Anda sebanyak 10 persen dari pendapatan. Jika saya bilang, sisihkan 30 persen per bulan. Itu udah bagus. Kalo gak bisa nyisihkan gimana dong?

Kita tengok kebiasaan memperlakukan duit. Kalau mau tahu yang benar, kita harus lihat yang salah. Selain tidak tahu apa yang sebenarnya “benar-benar” kita butuhkan, kita sejatinya memang tidak “niat” buat nabung. Itu masalahnya.

Karena itu, jika model manusia macam begini (termasuk saya nih), sebaiknya ikutan tabungan berjangka yang kini banyak ditawarkan bank. Selain bank biasa, bank syariah juga sudah punya yang namanya tabungan berjangka.

Apaan tuh? Itu jenis tabungan yang kagak bisa kita ambil sampai jangka waktu tertentu. Biasanya tiga tahun. Caranya begini. Tabungan kita di bank, tiap bulan dipotong sama bank itu. Disimpan di rekening lain yang kagak bisa diutak-atik sampai jatuh tempo tiga tahun. Setelah tiga tahun, baru deh kekumpul duitnya.

Lama? Gak juga. Satu tabungan berjangka saya udah kelar. Kagak berasa tiga tahun. Kalo mau coba, sebaiknya sih di syariah. Lebih berkah. Tapi kalau sudah terlanjur apa dikata? Tabungan berjangka model begini sekarang banyak macamnya. Ada yang dicampur asuransi (istilah kerennya unit link).

Intinya nabung. Kenapa nabung itu penting? Supaya “berasa” kita punya duit. Dari nabung kita bisa jadi kaya. Gimana tuh? Nah, dari duit yang udah kekumpul itu, kita bikin bisnis kecil-kecilan. Takut risiko? Beliin rumah, tanah, ruko, emas. Soalnya nilai barang-barang itu kagak turun. Istilah kerennya “kagak kemakan inflasi.”

Kalo duit? Waduuuh..Nilainya turun terus. Rata-rata 10 persen per tahun. Jadi,habis nabung terus investasi di tempat-tempat yang nilainya terus. Alias kagak turun. Gitu intinya jadi kaya.

Persediaan Uang Tunai

Dan kalo banyak orang Islam kaya, itu bagus banget. Biar para pengemis dan pengamen di jalan ludes. Malu. Kebanyakan liat yang miskin itu orang Islam.

Kalo di masyarakat negara maju seperti Jepang, menabung gak usah diajarin. Mereka udah sadar sendiri. Saking kebanyakan tabungan tuh di bank-bank sono, sampe-sampe para bank ngasih bunga nol persen. Nol persen! Edan. Nabung di bank syariah masih bagus dapet bagi hasil.

Kalo sudah panjang lebar begini Anda tertarik kan nabung? Paksa! Habis gajian, sisihkan dulu dari pendapatan 10 sampai 30 persen per bulan. Habis itu, untuk kebutuhan, Anda tinggal menyesuaikan dengan duit yang ada. Gampang kan? Siapa bilang gak bisa nabung?

“Bang bing bung yuk kita nabung. Jangan dihitung. Tahu-tahu kita untung…” Nabung ? Ayo kamu bisa!

Mengejar Emas-emas

•November 4, 2009 • 1 Komentar

Ranah Minang baru saja dilanda gempa. Tapi manusia Indonesia tak boleh kehilangan akal. Apalagi ketika harapan membumbung dengan datangnya kabinet baru duet SBY-Boediono. Musibah datang, tapi harapan hidup harus tetap ada. Satu hal penting dalam hidup yaitu tentang berinvestasi. Bagaimana kita menyiapkan masa depan. Salah satu investasi terbaik ada pada emas.

Indahnya dunia terasa ketika kita punya kebahagiaan dan harapan. Juga banyak uang. Itulah yang diharapkan dari investasi yang kita tanam. Pada emas, investasi kita tak termakan inflasi. Nilai emas jarang turun, cenderung stabil atau bahkan naik. Nah, ketika inflasi terus menggerogoti nilai investasi kita, emas adalah cara jitu untuk menyingkirkan “rayap” inflasi tersebut.

JAPAN/

Apa bagusnya emas? Emas layak menjadi investasi utama karena karakteristiknya yang berbeda dengan komoditi lain. Emas sejak zaman jebot dulu, dinilai berharga di seluruh dunia. Emas mempunyai suplai terbatas dan permintaan yang tidak terbatas, sehingga harga emas semakin naik. Alasan kedua, adanya ketidakdisiplinan mata uang dalam menjaga nilai. Ketidakdisiplinan ini menjadikan nilai mata uang selalu menurun.

Nah, kalau sudah tahu untungnya investasi emas lantas kita harus tahu berapa harga emas sekarang, lalu emas bagaimana yang cocok buat investasi. Kalau mau investasi emas, sebaiknya emas yang batangan atau per gram. Tapi bukan yang perhiasan.

Ada satu tempat bagus membeli emas. Yaitu di Logam Mulia, anak perusahaan Aneka Tambang. Kalau kebetulan Anda tinggal di Jakarta, lokasi Logam Mulia ada di pojok Jalan Pemuda, Rawamangun, Jakarta Timur ke arah Pulogadung. Telepon 021-299 80 900 (direkomendasikan) atau 021-475 7108. Kalau di Surabaya, daerah Genteng.

MARKETS-PRECIOUS/

Dasarnya emas memang salah satu instrumen paling tepat. Tak termakan inflasi. Tapi sebaiknya memang ini investasi jangka panjang (mungkin sebaiknya minimal tiga tahun). Ada satu alasan kenapa emas tepat. Bisa dilihat dalam tempo dua hari terakhir.

Emas yang harganya Senin (19/10) lalu di Logam Mulia masih di kisaran Rp360.500 per gram, Selasa (20/9) kemarin sudah naik menjadi Rp367.500. Sudah naik Rp7000 dalam sehari. Memang itu bukan acuan buat masa depan. Apalagi kalau membeli emas, sebaiknya ketika harga turun. Tapi setidaknya ketika harga minyak dunia cenderung naik, harga emas pun akan terkerek naik.

Walhasil, meski emas menguntungkan, tetap kita harus tahu apa tujuan investasi kita. Apakah nantinya itu buat menyekolahkan anak, buat membeli rumah, atau naik haji. Terserah kepada Anda. Yang jelas, ketika Anda memutuskan berinvestasi kepada emas yang logam mulia, maka Anda sudah tahu apa yang dituju lalu berapa tahun akan disimpan. Termasuk siap menanggung risikonya.

Intinya, emas termasuk satu alat investasi yang tepat. Risiko tetap ada. Tapi kalau dipikir-pikir risiko, ada yang lebih berisiko ketimbang emas. Seperti saham yang turun naik ataupun deposito yang lemot untungnya. Terpenting, tahu kapan masuk investasi dan kapan keluar dengan tujuan kekayaan demi maslahat orang banyak. Ingat peribahasa: Karena emas memas, karena padi menjadi. Karena kekayaan, apa yang dimaksud dapat tercapai.

Bermula dari Akhir

•November 4, 2009 • & Komentar

Anda mau tahu apa nantinya kelak seseorang akan menjadi? Tanyakan saja tentang cita-cita atau misi hidupnya. Dari sana Anda bisa meramal bagaimana hidup orang itu misalnya sepuluh tahun ke depan. Namun kali ini kini kita tidak membahas tentang masa sepuluh tahun ke depan, tapi tentang bagaimana seseorang menjalani masa seluruh hidupnya.

Menyitir buku laris Stephen Covey 7 Habits of Highly Effective People yang mencuat di dekade 1990-an dulu, ada kebiasaan kedua yang begitu penting. Visi personal. Bagaimana pernyataan misi pribadi seseorang menentukan arah hidupnya. Pernyataan misi ini berbasis pada kebenaran yang abadi.

Secara sederhana, pernyataan misi ini bermakna satu: memulai dari akhir dalam pikiran. Kasus ini tak hanya berlaku sewaktu menyelesaikan satu tugas atau pekerjaan tapi juga ketika kita mengakhiri hidup.

Bayangkan diri Anda tengah diselimuti kain kafan, lalu kerabat dan keluarga menangisi “kepergian Anda selamanya.” Gambarkan roh Anda dari kejauhan menatap pemandangan pilu tersebut. Macan mati meninggalkan belang. Manusia mati meninggalkan kenangan. Lantas kenangan macam apa yang ingin melekat di benak orang-orang tentang Anda?

Ada banyak kenangan yang berseliweran ketika kita meninggalkan dunia. Baik dan buruk. Senang dan sedih. Dari kesemuanya, pasti ada kenangan yang ingin Anda lekatkan. Sebagai orang kaya bermobil BMW? Sebagai orang kaya dermawan? Atau Anda ingin dikenang sebagai seorang guru baik hati yang memberi ilmu kepada banyak orang?

Misi hidup terserah sepenuhnya kepada Anda. Asalkan ingat, bahwa tujuan yang hendak kita capai, tentu berasaskan pada prinsip-prinsip kebenaran yang telah teruji. Dan kita menyatakan misi bermula dari kematian. Mulai dari akhir. Bukan bermula dari awal.

Sebagai seorang muslim, kematian lekat hubungannya dengan surga dan neraka. Mahabbah atau cinta kita kepada dunia terasa hampa ketika berhadapan tentang surga dan neraka.

EGYPT RAMADAN

Simak firman Allah SWT tentang surga. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanan mereka. Di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam surga yang penuh kenikmatan. Doa mereka di dalamnya ialah: “Subhanaka Allahumma”, dan salam penghormatan mereka ialah: “Salam.” Dan penutup doa mereka “Alhamdulillahi Robbil ‘aalamin.” (QS. Yunus: 9-10).

“Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal.” (QS. An Najm :13-15)

Nabi Muhammad SAW pun takjub. “Seandainya kalian melihat apa yang aku lihat, niscaya kalian akan lebih banyak menangis (daripada tertawa). Aku melihat surga dan neraka” (HR: Muslim).

Sabda beliau tentang surga, “Sungguh aku telah menyaksikan dari tempatku ini segala sesuatu yang dijanjikan untuk kalian. Sampai-sampai aku bisa melihat diriku sendiri hendak memetik dedaunan yang ada di surga. Tatkala kalian melihatku maka akupun maju” (HR: Muslim).

Rasullulah pun takut melihat neraka. “Sungguh aku telah melihat api neraka itu saling melahap satu sama lain. Ketika kalian memergoki aku maka aku pun mundur” (HR: Muslim).

Dan bulan Ramadan 1430 Hijriah sebagai bulan penuh ampunan kali ini semestinya kita manfaatkan seoptimal mungkin untuk beribadah mendekatkan diri kepada Sang Khalik pemilik diri makhluk semesta alam. Selain mengeluarkan zakat demi berkah keadilan sosial kepada lingkungan.

MENGAJI

Ramadan selayaknya tak hanya diisi tentang libur atau lebaran. Berdesakan mencari tiket pulang kampung, mudik bertemu sanak saudara. Ramadan baik untuk bertafakur dan berpikir tentang hidup dan Hari Akhir.

Pada akhirnya, untuk bisa mendapatkan hidup yang efektif, seseorang harus menanamkan tujuan hidup di dalam kepala. Hasil akhir sebagai acuan. Dari sana kita berpijak. Kalau kita mau dikenang sebagai orang baik, lakukanlah kebaikan sejak sekarang, sebanyak mungkin. Hidup kita bermula dari akhir.

Desa Berwajah Kota

•November 4, 2009 • 1 Komentar

Hari Raya Idul Fitri telah berlalu. Ada kenangan yang menyisa di pikiran? Saya ada. Tentang desa tercinta. Wonoenggal, Grabag, Kutoarjo, Jawa Tengah.

Anda mungkin tak mengenal desa Wonoenggal itu. Yah, buat apa sih tahu? Tapi ada yang menarik ketika saya mudik kemarin. Ada Indomaret, Alfamart terlihat mejeng di depan mulut gang desa. Pertanda apa ini? Kapitalisme telah mengubah gaya hidup masyarakat bawah hingga ke pelosok.

INDONESIA/

Kedua ritel minimarket itu tak hanya ada di pemukiman perkotaan. Tapi juga terlihat mewabah di sepanjang perjalanan menuju kampung mbah saya di selatan Jawa. Di daerah Cilacap, Prembun, Kutowinangun, Kebumen sampai ke Kutoarjo. Penduduk desa sudah mengkota.

Desa kini sudah berwajah kota. Tukang ojek pemuda desa yang saya tumpangi ketika baru turun dari bis bilang, sekarang para penduduk Wonoenggal dan Grabag lebih suka berbelanja ke Alfamart yang baru dibuka beberapa bulan sebelum Lebaran.

Pemuda desa setempat lebih suka beli rokok di sana meski berharga lebih mahal sekitar 300 perak rupiah. Kenapa bisa begitu? Ia bilang, para pemuda senang bisa melihat dan menggoda gadis penjaja di minimarket ketimbang membeli rokok di warung yang biasanya dijaga mbah-mbah.

Penduduk kampung pun merasa layaknya masyarakat kota ketika masuk minimarket berpendingin udara itu. Berasa metropolis seperti orang Jakarta! Mungkin begitu yang ada di pikiran. Lalu kenapa ini membuat saya resah?

Banyak hal yang bikin saya resah. Hadirnya Alfamart yang sahamnya sebagian besar dimiliki Sampoerna di pedesaan ini tentunya mengubah gaya hidup desa. Warung-warung kelontong bisa mati. Entah jangka pendek atau panjang. Strategi warung mbah-mbah yang tadinya bisa menjual dengan untung lumayan pun harus berubah. Mengambil untung sesedikit mungkin. Kalau tidak, ya mati.

Penjualan Naik

Kedekatan emosional antara pemilik warung dan pembeli yang biasanya guyub, lama kelamaan bisa hilang. Interaksi warga yang penuh tepo seliro, gotong royong, bisa pudar. Para warga bisa jadi perlahan tapi pasti akan lebih senang dengan hawa dingin di Alfa atau cara beli yang langsung mengambil barang lantas ke kasir.

Belum lagi bila kita menghitung perputaran uang yang beredar. Bila warga membeli barang di warung kelontong, maka si mbah akan membeli barang lagi ke pasar. Ada perputaran uang antarwarga desa. Setidaknya wujud saling tolong-menolong hadir. Si mbah pemilik warung menyediakan kebutuhan hidup warga, warga pun menolong mbah mencari nafkah hidup.

Kerisauan pada masuknya sosok kapitalisme raksasa ke pelosok kampung-kampung tak hanya menyentuh sisi toko saja. Bank juga. Contohnya kehadiran Bank Danamon yang memberikan simpan pinjam kepada para pedagang pasar kecil di selatan Jawa seperti Prembun dan Kebumen.

Bank Danamon yang saham mayoritasnya kini dimiliki negeri jiran Malaysia itu berani bersaing dengan Bank BRI. Bank yang sejak dulu terkenal sebagai banknya orang desa. Belum lagi para Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan BPR syariah. Semua berjejal menawarkan pinjaman ke warga desa.

Masuknya kapitalis besar ke desa, menandakan bila para pemilik uang sudah tak memandang remeh kampung lagi. Kampung sudah menjadi sarang mencari uang. Hati-hati bagi para pengambil kebijakan di daerah.

Lantas apa hubungannya minimarket dengan syariah? Perdagangan sistem syariah bersikap jujur dalam berbisnis. Caranya, kualitas barang dijual sesuai harganya, lalu pembeli harus bisa melihat kebutuhan, tidak dirangsang membeli barang sebanyak-banyaknya.

Berbeda dengan prinsip kapitalisme yang mau untung sebesar-besarnya dari usaha sekecil mungkin. Minimarket atau swalayan besar menjual barang dengan diskon atau menawarkan di bawah harga pasar, namun setelah membeli timbul penyesalan karena yang dijual ternyata barang rusak dan kadaluarsa. Itu bisa saja.

Para penduduk kampung dijejali konsumerisme. Semua disuruh membeli sebanyak mungkin barang. Entah mereka butuh atau tidak. Ada hal baru, harus dicoba. Ini barang kota loh, begitu penjual berkata. Susah. Menabung bisa jadi hal sulit bagi para warga desa.

Ada yang hilang bila warung kelontong sudah tergantikan minimarket yang begaya hidup kota. Suasana rukun, guyub antarwarga desa bisa hilang. Desa yang dulunya menyajikan ketenangan dan kelembutan lama-lama berubah berwajah keras dan penuh tipu daya layaknya kota. Semoga warga desa di manapun berada tak tertipu dengan kapitalisme semu dan masih menyisakan ruang bagi hadirnya kemurnian desa.

Bandit Ekonomi

•November 4, 2009 • 1 Komentar

Nyata sekali bila perhatian publik sekarang ini tengah terfokus pada kasus KPK versus Kepolisian. Cecak versus Buaya. Anggoro, Anggodo, Susno Duaji. Masyarakat gelisah. Nasib pemberantasan korupsi yang diusung pemerintahan SBY dalam bahaya. Para pemainnya banyak. Mereka, untuk gampangnya, kita sebut saja para bandit ekonomi.

INDONESIA-CORRUPTION/

Untuk memahami peran para bandit ekonomi, ada baiknya Anda menyimak buku John Perkins. Confessions of an Economic Hit Man (Pengakuan Bandit Ekonomi) yang disusul buku kedua The Secret History of The American Empire : Economic Hit Men, Jackals, and The Truth About Global Corruption. Perkins berkisah tentang bagaimana perannya sebagai seorang bandit ekonomi menghancurkan perekonomian suatu negara demi imperialisme Amerika.

Federasi atau persengkongkolan Anggoro, Anggodo dan antek-anteknya, entah bagaimana nanti cerita akhirnya atau siapa target dari kasus ini, termasuk para bandit ekonomi. Mereka ikut andil menggerogoti sendi ekonomi Indonesia dengan korupsi uang rakyat.

Fondasi dari langkah-langkah bandit ekonomi skala besar seperti Perkins ada tiga. Pertama, menentukan satu target negara berkembang pemilik sumber daya yang diidamkan (misal: minyak). Kedua, mengatur pinjaman yang besar untuk negara itu dengan tujuan agar tak bisa terlunasi. Ketiga, mengeruk sebagian besar uang utangan itu untuk perusahaan konstruksi milik bandit ekonomi dan rekanan.

Intinya adalah bagaimana mengeruk kekayaan alam negara berkembang semacam Indonesia untuk kepentingan Amerika. Memberikan utang yang besar dengan menggembungkan nilai proyek bekerja sama dengan para pejabat. Ketika utang itu harus dibayar rakyat dan mungkin saja sulit untuk terlunasi, kenikmatan dibawa ke imperium Amerika. Tagihan berentet: minyak murah, atau dukungan isu-isu kritis di PBB plus dukungan kepada tentara AS di sejumlah tempat di dunia, seperti Irak.

GERMANY/

Dari sana terlihat, bila negara berkembang dikuras habis. Perkins berterus terang mengatakan ikut mengatur proyek lewat Bank Dunia atau IMF dengan Soeharto dan kroni di zaman Orde Baru. Tak heran, proyek PLTU Paiton I dan II disinyalir bernilai gila-gilaan US$3,7 milyar (Rp37 triliun) tapi harga listrik yang dihasilkan 60 persen lebih mahal daripada di Filipina atau 20 kali lebih mahal dibandingkan di Amerika!

Atas nama penjarahan mereka berkuasa. Kejahatan terencana. Sadis. Dan Islam mengutuk perbuatan keji ini. Korupsi yang menyengsarakan rakyat. Secara filosofis, Islam menggambarkan bagaimana sekecil apapun makanan yang haram masuk ke tubuh seseorang akan menjadi daging yang akan terus-menerus mengotori kemanusiaan dan akan mengajak kepada perbuatan maksiat.

Eloknya, Islam mengancam pencurian dengan tegas. Hukum potong tangan jika telah memenuhi syarat. Korupsi jelas harus diberantas. Kasus penyuapan kepada para aparat penegak hukum ataupun pejabat tak bisa ditolerir sedikitpun.

Nyatanya, Islam mengajarkan bagaimana menuntaskan korupsi dengan cara sederhana. Lewat doa sebelum makan. Anda pasti sudah tahu bunyinya seperti diajarkan sewaktu kecil dulu. “Allahuma baariklanaa fiimaa razaqtanaa wa qiinaa adzaaba an-naar.” Artinya “Ya Allah, berkahilah atas apa-apa yang telah Engkau rezekikan kepada kami dan jauhkanlah kami dari siksa api neraka”.

Ada dua makna yang terkandung. Pertama, meminta berkah kepada Allah terhadap makanan kita. Dengan syarat makanan itu harus baik dulu. Halal, bersih dan bergizi. Selanjutnya, apabila kita berbagi makanan dengan orang lain, mungkin kita tidak kenyang, tapi yakinlah itu berkah. Yakin Allah yang menguasai mekanisme pencernaan kita akan memberikan energi berkualitas untuk hidup dan aktivitas. Energi yang berkah.

Hal kedua dari doa makan itu, yakni nilai kehati-hatian. Sebelum makan kita disuruh membayangkan siksa neraka. Apakah makanan itu kita dapat secara halal? Astaghfirullah. Kalau menghayati doa sebelum makan ini, niscaya para bandit ekonomi akan berpikir seribu kali sebelum memakan uang rakyat.

Mooi Oranje

•Juni 8, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Reykjavik | Jurnal Nasional
Kemenangan tipis dengan skor 2-1 atas tuan rumah Islandia kemarin dini hari sudah cukup meloloskan Belanda ke Piala Dunia 2010. De Oranje jadi pasukan pertama Eropa yang memastikan diri lolos ke Afrika Selatan.

Belanda memang mooi! Luar biasa. Hebat! Tambahan tiga angka kemarin membuat Pasukan De Oranje mengukuhkan diri di puncak Grup Sembilan Eropa dengan poin 18.

Hasil sempurna menang semua dari enam pertandingan. Belanda unggul sebelas poin dari peringkat kedua Skotlandia! Gawang Pasukan Bert van Marwijk bahkan hanya kebobolan dua kali dan mampu melesakkan 14 gol. Tak tertahankan.

“Menang enam kali beruntun di kualifikasi Piala Dunia, kami pantas dapat pujian,” ucap van Marwijk kepada RTL4-TV.

Dia bilang percepatan lolos ini membuat mereka punya waktu panjang bersiap ke Afsel. “Tujuan saya meloloskan Belanda ke putaran final tercapai. Jadi kami sekarang punya waktu setahun untuk menyiapkan diri. Tapi kami tak mau terlena. Kami juga mau menang di dua laga kualifikasi tersisa,” lanjutnya.

Di Reykjavik, gelandang bertahan Belanda Nigel de Jong membuka skor di menit kedelapan meneruskan umpan silang Rafael van der Vaart. Tak puas satu gol, permainan menyerang ala De Oranje, kapten Mark van Bommel menggandakan skor tujuh menit kemudian lewat sepakan brilian dari luar kotak penalti.

SOCCER-WORLD/

Dua menit jelang bubaran, Kristjan Sigurdsson mencetak gol penghibur bagi tuan rumah lewat sundulan jarak dekat. Skor 2-1 sudah cukup mengantarkan De Oranje ke Afsel.

Total football Pasukan Oranye memang nyata terlihat. Usaha Robin van Persie menerpa mistar setelah kerjasama satu dua membelah pertahanan Islandia. Penyerang sayap Arjen Robben juga bernasib apes. Sepakannya membentur mistar. Tiga peluang lainnya juga digagalkan kiper Islandia Gunleifur Gunleifsson.

“Saya nikmati babak pertama. Tapi sebenarnya kurang puas secara keseluruhan karena kami menggagalkan peluang. Harusnya kami bisa cetak empat sampai lima gol,” ucap van Marwijk yang juga mertua van Bommel ini.

Selanjutnya Robben dkk ditantang Norwegia Rabu besok sebelum terakhir tandang ke Skotlandia 9 Spetember. Juara grup lolos langsung ke Afsel. Delapan runner-up Eropa beradu play-off demi jatah empat tim ke Piala Dunia 2010.

Data
Hasil Akhir
Reykjavik
Islandia 1-2 Belanda
Sigurdsson 88 de Jong 8 van Bommel 15
Islandia 4-4-2:
Gunnleifsson; Steinsson, Hreidarsson, Sigurdsson, Eiriksson (Smarason 76); Saevarsson, Gislason (Gunnarsson 68), Sigurdsson, Danielsson (Gunnarsson 46); Gudjohnsen, Palmason

Belanda 4-5-1:
Stekelenburg; Heitinga, Ooijer, Mathijsen, van Bronckhorst; van Persie, van Bommel, van der Vaart (Babel 76), de Jong (Mendes 80), Robben; Kuyt (Huntelaar 67)

Wasit: Mike Dean (Inggris)

Bisnis Ala Rasulullah

•Mei 23, 2009 • & Komentar

Pada diri Rasulullah Muhammad SAW ada suri tauladan yang baik. Begitu pula masa-masa beliau ketika berdagang. Dan menjadi pengusaha yang kaya raya berintegritas tinggi idaman banyak orang zaman sekarang. Lantas kenapa kita tidak belajar dari manusia mulia utusan Allah SWT ini?

Kita mulai dari masa awal kehidupannya. Memang Allah SWT punya rencana besar untuk Rasullullah. Buktinya sejak kecil ia yatim piatu. Bisa jadi agar ia tak terpengaruh kedua orang tua. Alih-alih cengeng, Nabi punya jiwa yang kuat. Dan jiwa kewirausahaan Muhammad tumbuh sejak kecil.

Beliau menjadi pengembala untuk dapat upah. Jelas hal ini ia lakukan guna meringankan beban sang paman Abu Thalib tempatnya berteduh. Jiwa dagangnya makin terasah karena sejak usia 12 tahun ikut perjalanan bisnis sang paman menyusuri Syria, Jordan, dan Lebanon saat ini.

Lantas apa jiwa bisnis ini melekat begitu saja? Kalau ditilik, memang ada DNA wirausaha dalam diri Muhammad SAW. Sejarah mencatat, empat orang putera Abdul Manaf (kakek-kakeknya) pemegang izin kunjungan dan jaminan keamanan penguasa dari negara tetangga seperti Suriah, Irak, Yaman dan Ethopia. Mereka dapat membawa kafilah-kafilah bisnis ke berbagai negara tersebut dengan lancar.

HUNGARY/

Bukan kebetulan pula bila pas Nabi dilahirkan, waktu itu Kaum Quraisy sedang jaya-jayanya berdagang. Selain bersama paman, ia juga sempat dirawat sang kakek Abdul Muthalib yang juga pebisnis.

Dan sebagai remaja yang punya keinginan kuat, Muhammad tak mau jadi tanggungan sang paman. Ia mulai berdagang sendiri di Mekkah. Mulai dari kecil-kecilan. Beli barang di pasar, lalu menjual kepada orang lain. Selain berdagang, ia juga berperan sebagai agen pebisnis kaya di Mekkah. Bersungguh-sungguh, kerja keras, jujur (Shiddiq) dan terpercaya (Al Amin) prinsip yang ia pegang.

Nabi bermitra dengan Saib Ibnu Ali dan Siti Khadijah, konglomerat kaya di masa itu yang kelak menjadi istrinya. Muhammad remaja menjalankan kerjasama dengan sistem upah maupun bagi hasil. Dan usia 17-20 tahun, masa tersulit dalam perjalanan bisnisnya karena harus bersaing dengan pemain senior di perdagangan kawasan Arab.

Ada kisah contoh kesungguhan Nabi. Ia pernah harus menunggu pembelinya, Abdullah bin Abdul Hamzah tiga hari lamanya. Abdullah bin Abdul Hamzah mengatakan: “Aku telah membeli sesuatu dari Nabi sebelum beliau menerima tugas kenabian. Karena masih ada suatu urusan maka menjanjikan untuk mengantarkan padanya, tapi aku lupa. Ketika teringat tiga hari kemudian, aku pun pergi ke tempat tersebut dan menemukan Nabi masih berada di sana.” Nabi berkata, “Engkau telah membuatku resah, aku berada di sini selama tiga hari menunggumu” (HR. Abu Dawud).

Sebuah pengorbanan yang luar biasa untuk tak mau buat relasi dan pelanggan kecewa. Gak marah pula. Malah sang pelanggan yang gak enak luar biasa kan?

Kecerdikan berbisnis dan pemahaman Nabi terhadap pasar harus diacungi jempol. Muhammad pernah diminta membawa dagangan Khadijah. Ia jujur. Padahal banyak pedagang kala itu berprinsip dagang ya dagang, jujur ya jujur. Nabi pun lantas dimusuhi.

kafilah saudi

Akhirnya mereka berkomplot membangkrutkan Muhammad. Ketika rombongan dagang Mekkah ke Syam (sekarang Suriah), mereka sengaja jatuhkan harga. Muhammad tak mau. Itu bukan barang miliknya. Yang ia bawa punya Khadijah. Ia harus amanah.

Tapi otak Muhammad jalan. Kondisi pasar waktu itu, jumlah permintaan jauh lebih tinggi dari penawaran. Seluruh barang pasti akan terjual. Permintaan konsumen di atas jumlah barang tersedia. Kalaulah barang dagangan saudagar Quraisy habis, pasti konsumen tetap cari barang itu. Benar saja. Mereka jual rugi, Muhammad jual untung. Mekkah gempar.

Karier bisnis Muhammad makin cemerlang menginjak 25 tahun. Terbukti ketika menikahi Khadijah mas kawin yang ia serahkan 20 ekor unta muda. Bukti keberhasilan bisnis Nabi. Satu waktu Nabi juga berkurban seratus unta dari kocek sendiri. Bayangin aja kalo satu unta Rp 7 juta sampai Rp10 Juta. Berarti kurban Nabi Rp 700 juta sampai Rp1 miliar!

Usai menikah, Muhammad masih berdagang ke Yaman, Bahrain, Irak dan Suriah. Namun kali ini beda status. Ia sudah naik pangkat sebagai manajer sekaligus mitra usaha sang istri. Dengan berdagang sampai ke pelabuhan Oman serta semenanjung Arab lainnya, barang dagangan Nabi telah menjangkau dunia. Kaum pedagang dari India, China serta belahan Timur dan Barat juga datang ke sana.

Lantas kalau ditilik, apa rahasia keberhasilan bisnis Nabi? Ada empat. Shiddiq (benar), amanah (dapat dipercaya), fatonah (cerdas, cerdik, memahami manajemen dan strategi bisnis), dan tabligh (kemampuan berkomunikasi dan meyakinkan relasi atau pembeli).

LEBANON/

Rafi’ bin Judaij berkata, “Rasulullah saw ketika ditanya, usaha apakah yang paling baik? Nabi menjawab: usaha seseorang dengan tangannya sendiri dan semua jual beli yang baik” (HR. Hakim). Usaha dengan tangan sendiri bisa jadi jasa, produksi, pertanian, dan perikanan. Jual beli tak lain perniagaan barang dan jasa.

Dibingkai kesopanan dan kebaikan hati satu keunggulan sikap Nabi yang patut dicontoh. Jabir meriwayatkan bahwa Rasulullah berkata, “Rahmat Allah atas orang yang berbaik hati ketika ia menjual dan membeli, dan ketika ia membuat keputusan” (HR. Bukhori).

Lantas apa itu semua menjamin Anda langsung berhasil sebagai pengusaha? Belum tentu. Teruslah bekerja keras. Karena Rasulullah SAW bersabda: “Pedagang yang amanah dan benar akan bersama dengan para syuhada di hari kiamat nanti” (HR. Ibnu Majah dan al-Hakim). Mau kan masuk surga?

Duit

•Mei 13, 2009 • & Komentar

Kita hidup perlu duit. Orang bekerja mencari duit. Uang. Money. Atau apalah namanya. Lantas duit apa yang akan kita bicarakan kali ini? Kita bicara tentang uang yang beredar di pasaran kini. Sederhanakan saja. Uang kertas.

Dulu sewaktu kecil, saya kenal uang logam lima perak, sepuluh perak, jigo, gocap. Perlahan tapi pasti, lama kelamaan duit itu punah. Duit seratus perak pun sekarang sudah langka. Yang ada dan dikenal tinggal duit kertas. Inflasi menelan semuanya.

Dan rubrik Muamalah kali ini ingin mengulas buku peran uang sehari-hari yang kita pakai (fiat money) alias uang yang disahkan pemerintah. Kalau bicara tentang uang, ada buku bagus dan menarik yang dikarang Direktur Utama Bank Muamalat, A. Riawan Amin berjudul Satanic Finance, True Conspiracies (2007).

riawan peci

Buku ini mengupas secara gamblang tentang bejatnya sistem kapitalisme yang berdasar pada tiga pilar. Yakni, uang kertas (fiat money), cadangan wajib sebagian kecil (fractional reserve requirement) dan bunga (interest). Riawan menyebutnya “Tiga Pilar Setan.”

Kenapa setan? Ya, karena dengan ketiga kiat itulah setan-setan yang berwujud manusia menebar ketidakadilan. Jurang antara si kaya dan si miskin semakin menganga. Sifat baik seperti tolong-menolong, gotong-royong makin lama kian pudar. Orang lupa daratan, mementingkan duit.

Padahal jelas-jelas duit kertas itu sebenarnya hanya bernilai setitik saja. Oke kita kutip buku Satanic Finance. Di situ tertulis kalau biaya pembuatan satu dollar AS sekitar empat sen dollar. Artinya, kalau The Fed mencetak US$100, maka Amerika meraup keuntungan US$99,6 (Rp1,095 juta) per kertas US$100 yang mereka cetak. Edan!

Jangan-jangan biaya pembuatan Rp100 ribu yang konon pakai kertas canggih lebih besar dari US$100 yang cuma empat sen dollar. Walau duit rupiah itu cuma bernilai sepersebelasnya (1 US$= Rp11.000).

Karenanya sungguh tepat metafora Riawan yang menuliskan kisah Sukus dan Tukus yang tinggal di dua pulau berbeda, Aya dan Baya. Akibat hasutan Gago dan Sago yang bermodal kertas belaka, akhirnya kekayaan kedua pulau itu menjadi milik Gago-Sago.

Ini bagaikan perilaku Amerika yang berdasarkan perjanjian Bretton Woods (1944) membuat dollar bisa bebas digunakan di seluruh dunia. Awalnya sih bagus. US$35 dicantelkan dengan satu ons emas. Artinya, pencetakan dollar harus disesuaikan cadangan emas.

Tapi lama kelamaan karena keenakan mencetak duit terus, AS kelabakan. Cadangan emas menipis. Akhirnya, saking tidak kuatnya, tahun 1971 Presiden AS Richard Nixon melepas cantelan itu. Dollar bebas lepas, tak tergantung cadangan emas.

Akibatnya jelas. Amerika masih bisa santai walau punya defisit segunung. Toh, ditukar dengan “kertas” doang. Bayangkan kalau defisit anggaran AS seperti dilansir kantor berita DPA diperkirakan senilai US$482 miliar (Rp5.302 triliun) di tahun 2009. Naik dari defisit 2008 sebesar US$389 miliar (Rp4.279 triliun). Berapa banyak keuntungan AS di dunia dengan mengekspor “kertas” dollar hanya bermodal tulisan “In God We Trust” itu? Busyet dah!

dollar as agung

Sehingga secara bawah sadar, negara pemilik kekayaan alam seperti Indonesia manyun. Hasil tambang, coklat, tembakau, rempah-rempah, ikan, terbang bebas ke luar hanya bertukar “kertas.”

Lalu bagaimana duit bisa membuat jurang kaya-miskin makin lebar? Lewat pilar kedua dan ketiga. Cadangan wajib sebagian kecil dan bunga alias riba. Kita bicara dulu pilar kedua. Aturan cadangan wajib sebagian kecil (FRR) membuat bank bisa mencetak uang dan menggandakannya. Loh kok bisa?

Gini loh. BI biasanya punya aturan pencadangan wajib bagi para bank. Taruh misalnya 10 persen. Itu jumlah duit yang harus ada. Jaga-jaga kalau penabung atau deposan menarik duit mereka. Lantas kemana sisa 90 persen? Masak nganggur. Dikreditin dong.

Nah, kalau seorang penabung menyimpan Rp100 ribu, maka bank bisa menciptakan duit Rp900 ribu. Gimana caranya? Kalau Rp100 ribu dianggap aturan cadangan 10 persen, maka 100 persen duit berarti Rp1 juta. Jadi, ada sisa Rp900 ribu. Jumlah Rp900 ribu itu, jumlah uang yang diciptakan bank lewat kredit alias pinjaman.

Lalu gimana kalau di satu bank ada duit Rp1 triliun? Taruh ada 50 bank. Jadi ada Rp50 triliun duit nasabah. Berapa total duit? Rp500 triliun. Berapa duit yang diciptakan bank? Rp450 triliun. (Rp500 triliun minus Rp50 triliun). Banyak banget!

Pilar ketiga, bunga. Ini jelas taktik Yahudi. Yang senang para pemilik modal. Karena duit bisa berkembang biak dengan pasti. Anda tidur pun, duit Anda bekerja. Contoh lagi biar gampang.

Tadi, dari duit penabung Rp100 ribu “tercipta” Rp900 ribu. Kalau bank memberi bunga 15 persen, maka ada tambahan duit masuk Rp135 ribu (15 persen kali Rp900 ribu). Dari sistem ini bisa terlihat kalau nantinya ada nasabah yang gagal bayar. Gimana?

Total duit yang harus dibayar Rp1.035.000 (Rp900 ribu duit yang dipinjamkan+ Rp135 ribu bunga). Padahal jumlah uang seluruhnya cuma Rp1 juta (Rp100 ribu cadangan disimpan bank+ Rp900 ribu hasil “ciptaan” bank). Jadi pasti ada yang kekurangan duit buat bayar (Rp35 ribu). Wong, total duit tersedia kurang kok.

INDONESIA ECONOMY/RATES

Karenanya, Allah SWT mengecam keras bunga alias riba. Di Al Qur’an pun sudah ada ancaman yang nyata. “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena penyakit gila.” (Al Baqarah 275).

Dengan kata lain, Allah SWT mau bilang, kalau orang yang mengambil riba tidak tentram jiwanya seperti orang kemasukan setan. Mau kemasukan setan? Jangan dong. Makanya, nabung di bank syariah!

Ada komentar ataupun saran tentang rubrik Muamalah ini, silakan layangkan surat Anda ke tono@jurnas.com. Terima kasih. Suhartono (terbit di jurnal nasional edisi rabu, 21 januari 2009)

Bagi Hasil

•Mei 13, 2009 • & Komentar

Keunggulan sistem perbankan syariah ketimbang bank konvensional terletak pada sistem bagi hasil. Bagi hasil jelas adil. Kalau untung, dibagi sama-sama, kalau rugi pun bank ikut menanggung kerugian.

Jelas sistem ini beda banget dengan bunga. Biasanya bunga sudah ditentukan sekian persen dari pokok sejak awal. Kita sudah tahu, kalau kita menabung atau menaruh deposito, berapa bunga yang akan kita dapatkan.

Kalau besarnya nisbah bagi hasil, ditentukan pada saat penabung meneken akad. Misalnya, nisbah 60:40. Itu berarti, bagi hasil untuk nasabah 60 persen, bank 40 persen. Di hari pertama, penabung belum memperoleh keuntungan bagi hasil. Ia baru dihitung setiap akhir bulan dan otomatis diberikan ke rekening di tiap akhir bulan.

Jumlah bagi hasil buat giro juga seperti tabungan, dihitung setiap akhir bulan. Untuk deposito, dibagikan setiap tanggal jatuh tempo. Biasanya pembukuan bagi hasil dikredit otomatis setiap jatuh tempo ke rekening tabungan milik nasabah atau rekening deposito itu sendiri.

Lalu bagaimana cara menghitungnya? Sistem penghitungan bagi hasil berdasar saldo rata-rata harian dalam satu bulan. Jadi, sederhananya, kalau Anda menabung di bank syariah yang punya nasabah jutaan, dengan jumlah nilai tabungan berbeda-beda naik turun seperti gelombang, melalui sistem komputer akan ketahuan berapa saldo rata-rata per hari dalam satu bulan tertentu untuk setiap rekening.

riawan Sby di Festival Ekonomi Syariah

Ada contoh cara menghitung bagi hasil di salah satu bank syariah. Terlebih dahulu kita menghitung HI-1000 (baca: Ha-I- seribu). Ini simbol untuk menunjukkan hasil investasi yang diperoleh dari penyaluran setiap Rp1000 dana nasabah.

Misalkan, HI-1000 bulan Januari 2009 sebesar 10,50. Maka setiap Rp1000 dana nasabah akan menghasilkan Rp10,50. Ini sebelum dikalikan nisbah bagi hasil antara nasabah dengan bank.

Hitungan belum usai. Kalau nisbah bagi hasil antara nasabah dan bank untuk tabungan 52:48 maka dari Rp10,50, untuk porsi nasabah dikalikan dulu dengan 52 persen. Didapat angka 5,46. Berarti, untuk setiap Rp1000 yang dimiliki, nasabah mendapat bagi hasil Rp5,46.

Ada Rumus sederhana untuk itu.

Bagi hasil nasabah = rata-rata dana nasabah x HI-1000 x nisbah dalam persen
1000

Kita ambil ilustrasi lagi. Misalkan Bung Fery menabung Shar’e Muamalat sebanyak Rp10 juta. Ketahuan kalau nisbah 1 bulan 52:48. Hi-1000 Januari 2009 sebesar 10,50. Maka berapa nilai bagi hasil Bung Fery?

Bagi hasil Bung Fery = Rp10.000.000 x 10,50 x 52% = Rp54.600.
1000

Mudah kan? Tenang, jangan puyeng dulu.

Sistem bagi hasil ini, jelas tak ada di bank konvensional. Di bank biasa yang kita kenal, suku bunga ditentukan dengan pedoman bank yang untung. Bukan nasabah. Kalau Anda menabung di bank, bunga yang Anda dapatkan pun kecil. Tak cukup untuk potongan buat pemeliharaan bank yang ada di kisaran Rp7500 sampai Rp10 ribu per bulan. Padahal bank untung gede sampai triliunan loh?

Sistem bunga juga mensyaratkan adanya pertumbuhan ekonomi. Padahal hari gini, ketika ekonomi tengah lesu, pengangguran meningkat, dunia usaha kelimpungan, pertumbuhan ekonomi pun macet. Bank tak mau tahu. Bunga tetap harus dibayar.

Dan Islam datang dengan prinsip bagi hasil. Ingin menanamkan keadilan bagi para pelaku ekonomi. Bukan hanya bagi hasil keuntungan saja, kalau peminjam ke bank usahanya rontok akibat krisis global misalnya, bank syariah pun akan berbagi kerugian. Mana ada yang kayak begini di bank konvensional? Mau?